Selasa, Oktober 22, 2013

The Story Continue

Saya bernama Widiawan Winata, lahir tanggal 17 April 1987 di Jakarta, sempat bertempat tinggal di Bogor pada saat SD. Karena mami saya status nya sebagai single parent maka beliau menjadi bekerja kembali namun apa mau dikata perekonomian keluarga saya tetap saja sulit. Akhirnya nenek saya dari papi memutuskan untuk mengambil alih asuh saya makanya bersekolahlah saya di Mardi Yuana 1 Siliwangi, Bogor. Memasuki masa smp adalah masa yang sedikit sulit dikarenakan nenek yang mengurus saya meninggal dunia. Jadi hasilnya saya sempat dirawat oleh Om terbaik saya dan engkong saya. Namun dikarenakan mereka berdua adalah laki-laki maka untuk mengurus saya adalah hal tersulit dalam hidup mereka hahahaha.. Makanya berdasarkan kesepakan mereka saya dititipkan di sebuah Panti Asuhan didaerah Batu Tulis Bogor. Sempat beberapa hari mungkin seminggu saya tinggal disana.

Setelah "kabur" dari Panti Asuhan saya kembali ke rumah hidup dengan Om dan Engkong saya. Yah setidaknya sampai dengan pertengahan kelas 1 SMP karena pada masa itu Engkong saya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari minggu.


Saya ingat pada waktu itu hari minggu dan seperti biasa saya pagi-pagi memanggil engkong saya dikamarnya. Namun entah kenapa panggilan saya kali ini tidak ada jawaban sama sekali. Engkong saya hanya diam saja. Karena tidak ada sahutan akhirnya saya masuk kedalam kamar dan menemukan engkong masih tertidur. Memang sedikit bingung waktu itu karena seperti biasanya engkong bangun pagi-pagi sekali dan sudah ngopi. hahahaha. I remember that time.

Gita Septriani dan Widiawan Winata
Me and my girlfirend
Karena tidak bangun juga saya membangunkannya dengan cara menggoyangkan tubuhnya. Aneh! Engkong sama sekali tidak bergerak. Saya ingat waktu itu terus menggoyang goyangkan tubuhnya namun tidak ada respon, saya takut sekali karena badannya dingin sekali, seketika itu juga saya panik dan berlari ke kamar Om saya dan memberitahukan kondisi engkong. Dengan cepat Om Tis melihat kekamar dan.... Yahh akhirnya engkong menghembuskan nafas terakhirnya.

Semalam sebelumnya saya sempat bersama dia membeli makan malam di daerah Gang Aut, Bogor. Waktu itu pada saat jalan engkong memang sempat berkata jika dirinya cape dan sesak dada. Tapi saya pikir tidak ada apa2 waktu itu. Om Tis sendiri aja berkata jika semalam dia sempat berbincang dengan engkong saya. hmm... Saya juga ingat saya sempat kerokin badannya dimalam itu. Pagi harinya cerita menjadi lain.

Meninggalnya engkong saya merubah segalanya. Kehidupan saya seutuhnya dan perjalanan saya kedepannya.

Karena hanya tersisa saya dan Om Tis dirumah maka mau tidak mau Om Tis mencari Mami saya yang berada di Jakarta untuk kembali merawat saya. Tidak lama setelah itu saya dirawat oleh Mami saya di Jakarta dan saya ber SMP di Jakarta pada kelas dua dan tiganya. Hanya adik saya yang masih bertahan di Panti Asuhan didaerah Parung, Bogor.

Masa SMP adalah masa yang baru buat saya. Segi lingkungan, segi pertemanan, segi segalannya. Benar-benar berbeda sekali kehidupan saya SMP di Jakarta dengan saat masih sekolah di Bogor. Saya memiliki beberapa teman cukup akrab disaat SMP. Bisa dikatan pada saat SMP saya menjadi lebih berpengalaman dalam bergaul karena jika selama ini saya hanya berteman dengan lingkungan saya sebelumnya sekarang saya berteman dengan lingkungan yang sangat berbeda.

Banyak kenakalan kenakalan pada saat saya SMP. Saya suka bolos, suka merokok, suka kabur dll. Tapi satu hal yang tidak pernah saya langgar adalah minum-minuman keras dan narkoba hingga detik ini.

SMP di Jakarta bisa dibilang perjalanan yang cukup singkat namun panjang. Singkat karena saya bersekolah di Jakarta hanya sampai kelas tiga atau hanya dua tahun. dibilang panjang karena saya memiliki banyak pengalaman baru yang bisa dipelajari. Oh ya saya ber SMP di Adhi Dharma. Untuk urusan pelajaran saya banyak peningkatan di SMP. Saya jadi lebih pintar. hehehehehe..

Hubungan saya dengan Om Tis sempat vacum karena pada saat terakhir kali saya bertemu di Jakarta di rumah mami dia akan pergi ke Bali untuk urusan pekerjaan. Yahh alhasil saya kehilangan kontak dengan beliau karena jaman dulu kaga ada hape murah. hehehehe...

widawan winata
Tenggelam dilaut pun masih narsis
Saya ingat begitu sulitnya perekonomian saya pada jaman SMP berbanding jauh dengan pada saat saya tinggal dengan Om saya di Bogor. Tapi disinilah uniknya saya menjadi lebih tau diri dalam beradaptasi terhadap kekurangan.

Waktu SMP saya punya cita-cita masuk STM pada saat lulus, biasalah keinginan anak muda saat itu hahahahaha.. Biar dibilang keren. Namun mami saya yang trauma akan tawuran tidak pernah mengijinkan saya masuk STM. Saya terus merengek.. Akhirnya mami saya bilang... "Kalo mau sekolah STM syaratnya harus bersekolah STM didaerah Cipanas, Cianjur tempat nenek saya." Tanpa pikir panjang saya berkata OK!!!

Aneh juga pada saat itu saya berani meng iyakan pindah ke Cipanas mengingat disana saya tidak punya teman satu pun! Sedangkan di Jakarta saya punya banyak teman. Entahlah apa yang saya pikirkan waktu itu tapi yang pasti karena hal itu saya memiliki pengalaman yang sangat kaya. hahahaha..

Setelah lulus akhirnya saya bersekolah di daerah Cipanas, walau awalnya saya berharap masuk STM tapi tetap saja saya masuk SMA. Lho kok bisa? Bukannya ke Cipanas karena mau masuk STM? Kenapa masih masuk SMA juga? Hmm...

To be continue...

0 Komentar

Posting Komentar

Selamat jadi komentator ya. Focus on topics. No Spam please.