Minggu, Maret 20, 2011

Sial Atau Beruntung Saya Tidak Tahu

Saya lupa kapan saya pernah membaca cerita ini. Tapi yang saya ingat cerita kali ini saya dapat dari blog. Kisah ini mengisahkan seorang petani yang tidak pernah berputus asa dan selalu menghargai dan bersyukur terhadap segala yang terjadi. Begini kisahnya...

Disuatu desa terpencil hiduplah seorang petani yang memiliki seorang putra dan seekor kuda untuk mengurus ladangnya. Petani ini memiliki seekor kuda yang sangat kurus dan kecil. Kuda ini digunakan oleh petani untuk mengurusi ladangnya.
Pada suatu hari kuda kurus dan kecil yang dimiliki petani ini menghilang. Kuda satu-satunya ini pergi meninggalkan ladang. Para tetangga berkata: "Sial benar hidup mu pak tani. Sudah kudanya kurus dan hanya satu2nya sekarang dia pergi." Lalu petani itu berkata: "Sial atau beruntung saya tidak tahu."

Dua hari setelah kejadian tersebut, petani tadi dikejutkan dengan kembalinya kudanya yang kurus itu. Tetapi kali ini kuda kurus tersebut kembali dengan puluhan ekor kuda liar yang besar-besar. Dan sekarang kesemuanya berada diladang pak tani. Alhasil kuda-kuda yang besar menjadikan orang2 ingin membelinya. Makmurlah hidup petani tadi dengan penjualan kuda2 tersebut. Para tetangganya berkata: "Beruntung sekali hidup mu pak tani." Lalu petani itu menjawab: "Sial atau beruntung saya tidak tahu."

Petani hanya menyisakan satu ekor kuda jantan yang besar. Ketika kuda itu ditunggangi anaknya untuk digunakan berladang tiba-tiba saja kuda tersebut mengamuk dan mejatuhkan anak petani tersebut hingga patah tulang dan menghabiskan banyak uang untuk perobatannya. Tetangga berkata: "Sial sekali hidup mu pak tani." Petani itu menjawab: "Sial atau beruntung saya tidak tahu."

Tiga hari kemudian desa petani tersebut kedatangan seorang raja yang memberikan perintah wajib militer bagi laki-laki, muda, dan sehat. Anak petani tadi tidak dapat bergabung dalam wajib militer. Wajib militer dilakukan guna melakukan serangan terhadap pasukan musuh. Yang ternyata pasukan raja tadi dapat dihancurkan dan hampir seluruh pasukan menjadi tawanan dan mati di medan perang. Para tetangga berkata: "Beruntung sekali hidup mu pak tani. Tidak merasakan kehilangan seorang anak." Lalu petani tadi menjawab: "Sial atau beruntung saya tidak tahu."

Moral:
Moral yang bisa dipetik dari kisah diatas adalah

"Jangan pernah memberikan setiap kejadian dengan label kesialan atau keberuntungan"

Setiap kejadian yang ada didiri kita haruslah di syukuri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan diberikan oleh Tuhan pada saat mendatang. Apakah Tuhan serencana dengan kita atau memiliki rencananya sendir.

Satu hal yang pasti ikhlas kan dan syukuri semua yang terjadi pada diri kita sendiri.

0 Komentar

Posting Komentar

Selamat jadi komentator ya. Focus on topics. No Spam please.