Rabu, Oktober 20, 2010

Review Film: Valkyrie

Film Valkyrie adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata pada perang dunia kedua tentang usaha pembunuhan Adolf Hitler dan Himmer yang merupakan gegeduk dari NAZI. Valkyrie adalah sebuah film thriller historis yang dikeluarkan pada tahun 2008 dan disutradarai oleh Bryan Singer. Setting film ini adalah Jerman Nazi pada masa Perang Dunia II dan menceritakan komplot pemberontakan 20 Juli 1944 yang dilakukan oleh para perwira Tentara Jerman untuk membunuh Adolf Hitler. Tom Cruise berperan sebagai Kolonel Claus von Stauffenberg, salah seorang tokoh pemberontak utama. Sementara itu artis Belanda Carice van Houten memerankan istri Kolonel Von Stauffenberg dan Adolf Hitler diperankan oleh David Bamber.


Valkyrie adalah prosedur pengamanan kota bila negara sedang terancam bahaya. Sejumlah pasukan yang sudah ditempatkan di sejumlah titik kota akan dengan serentak menguasai titik- titik penting Ibukota dan di seluruh propinsi bila menerima pesan gawat darurat. Mengambil setting Perang Dunia II, prosedur Valkyrie pernah digunakan untuk merebut pemerintahan Jerman dari rezim Adolf Hitler. Para pemberontak yang juga adalah sejumlah perwira tinggi militer dan departemen pertahanan Jerman merancang plot Valkyrie dengan cukup rapi. Setelah beberapa kali mengadakan rapat akhirnya diputuskan beberapa hal, yang pertama adalah pembunuhan terhadap A. Hitler dan Himmler ( kepala pasukan SS ). Yang kedua, adalah mengaktifkan Valkyrie dengan perintah kepada pasukan Valkyrie bahwa Negara dalam keadaan gawat darurat, telah terjadi usaha pemberontakan, sang Fuhrer A. Hitler telah terbunuh dan memerintahkan untuk menangkap pasukan SS dan sejumlah tokoh –tokoh lainnya karena mereka adalah pemberontak. Tokoh- tokoh yang disebut dalam surat perintah Valkyrie ini tentunya adalah pengikut setia Hitler yang perlu segera “diamankan” dan pasukan SS harus segera dibekuk karena mereka adalah komponen militer yang paling setia kepada Hitler.

Adalah Kolonel Claus von Stauffenberg yang menggagas plot ini. Salah seorang perwira muda Jerman yang sangat menginginkan agar rezim A. Hitler segera berakhir. Dengan Valkyrie Kudeta yang dilakukan bersama kelompoknya diperkirakan akan terjadi sangat cepat dan dapat berakhir dengan kemenangan tanpa pertumpahan darah. Suatu keberhasilan yang sangat ideal , mengingat begitu besarnya dukungan seluruh rakyat Jerman kepada A. Hitler kala itu.

Namun apa mau dikata, ternyata sejarah berkata lain. Hitler ternyata selamat dari usaha pembunuhan 20 July 1944 tersebut, kudeta tersebut berhasil dipatahkan dan Kolonel Stauffenberg beserta kawan-kawannya dieksekusi mati.

Film ini adalah sebuah propaganda cerdik yang dilakukan oleh yahudi. Para penghnat Hitler ini digambarkan sebagai pahlawan yang sangat berani dalam membentang tirani. Padahal sudah jelas apa yang dilakukan para penghianat ini gagal total!

Ingat Hitler bisa mencapai kekuasaan tertinggi dikarenakan dukungan rakyat yang setuju bahwa bangsa Jerman menderita dikarenakan kecurangan, kebusukan dan kemarukan dari bangsa Yahudi. Jadi tidak mungkin jika pemerintahan Hitler dianggap tirani, orang dia didukung rakyat.

Sayang sebagai film yang mengangkat kisah nyata , Valkyrie tidak mencantumkan alasan kenapa A. Hitler berperang. Sehingga melihat pemberontak Stauffenberg dan kawan- kawannya yang ingin menyelamatkan Eropa menjadi sungguh menggelikan terutama apabila kita membaca sejarah. Sedang, Figur Hitler digambarkan sebagai seorang maniak yang gila kekuasaan dan perang yang ingin menguasai seluruh Eropa.

Di penghujung masa Perang Dunia I, Jerman menyatakan menyerah kalah dan menarik semua pasukannya dari Eropa. Situasi ini membuat para petinggi militer Jerman kebingungan kala itu, karena mereka merasa tidak kalah di medan pertempuran. Lalu kenapa mereka disuruh untuk menyerah dan mundur ? Hal ini membuat para petinggi militer Jerman diam- diam geram kepada pemimpin dan politisi Jerman. Ditambah pula kerugian yang diakibatkan oleh perjanjian Versailles (1919) yang amat merugikan Jerman. Isi dari perjanjian tersebut adalah pembatasan militer Jerman, penyerahan sejumlah wilayah- wilayah koloninya dan pembayaran sejumlah besar uang kepada negara- negara pemenang perang ( Inggris , Perancis dan Russia ) yang sangat mencekik bangsa Jerman.

Sedangkan untuk pembiayaan perang dalam PD I, Jerman selalu membayarnya dengan mencetak uang bukan dengan uang pajak. Hasilnya adalah, seusai perang mata uang Marks runtuh nilainya. Didalam negeri, investasi hampir tidak ada lagi nilainya sementara kebanyakan orang melakukan transaksi dengan membarter barang dan sekitar 30% rakyat Jerman tidak bisa memiliki pekerjaan, singkatnya negara dalam keadaan “chaos”. Sementara Inggris dan Perancis mengancam akan meneruskan serangan bila Jerman tidak bisa memenuhi jadwal pembayaran. Hasilnya adalah legiun Perancis dan Belgia menduduki wilayah industri Jerman di Ruhr pada Januari 1923. Tujuan pasukan tersebut adalah untuk menduduki tambang-tambang emas Jerman dan mengalihkan outputnya ke Perancis. Namun akhirnya para pekerja tambang emas tersebut beramai- ramai melakukan mogok kerja dan meninggalkan tambang tersebut. Sungguh berbeda dengan rakyat Jerman, kaum Yahudi Jerman yang tinggal bersama rakyat Jerman hidup kaya raya sebagai pengusaha, bankir dan industriawan. Karakter Yahudi juga dikenal sangat tidak simpatik, kebanyakan Yahudi Jerman membatasi pergaulannya dengan orang selain Yahudi. Sifat mereka yang cenderung etnosentris mengakibatkan mereka sulit untuk berbaur serta sering memancing kecurigaan dan kecemburuan. Hitler juga mencurigai kaum Yahudi sebagai pemilik denyut nadi ekonomi Jerman yang selalu melarikan harta kekayaannya keluar Jerman dan menyokong musuh- musuh Jerman selama Perang Dunia I lewat pembiayaan. Itulah salah satu sebabnya mengapa Hitler dan NAZI nya menimpakan semua kesalahan atas kekalahan PD I kepada kaum Yahudi.

Adalah Adolf Hitler, veteran perang berpangkat Kopral yang menyajikan fakta- fakta ini sebagai butir- butir perjuangan partainya. Ia berusaha membuka mata rakyat Jerman yang telah dipermainkan sejumlah politisi. Ia pernah berkata,”mereka yang pernah menyuruh kita berperang atas nama negara tapi setelah kita hampir mencapai kemenangan mereka juga yang menyuruh kita untuk kalah”. Saat itu Jerman sangat terpukul dan terisolir kegiatan ekonominya namun kekuatan militernya masih tetap digdaya. Oleh karena itu, argumentasi A. Hitler untuk berperang waktu itu adalah argumentasi yang dapat diterima oleh hampir seluruh rakyat Jerman. Satu- satunya cara untuk mengembalikan martabat bangsa dan negara adalah mengadakan perang dengan sekutu ( Inggris , Perancis dan Russia ) dan membalas kekalahan yang pernah mereka derita.

Jadi adalah sangat menggelikan bila Kolonel Stauffenberg dan kawan- kawannya yang ditampilkan sebagai hero yang ingin menyelamatkan Eropa dari serangan ekspansif Hitler. Justru Jermanlah yang ingin berperang untuk membebaskan dirinya dari kungkungan perjanjian Versailles.

0 Komentar

Posting Komentar

Selamat jadi komentator ya. Focus on topics. No Spam please.