Senin, September 06, 2010

Japan Spirit!

Tahun 1945 Jepang dengan sangat meyakinkan hancur oleh sekutu dalam perang dunia ke-dua. Semua kekuatan militer, perekonomian, bisnis, dan industri benar-benar luluh lantah tak tersisa. Kekuatan bom atom yang digunakan Amerika Serikat membuat Jepang mengibarkan bendera putih. Kekalahan Jepang tentu saja mengakibatkan kesengsaraan bagi negara dan semua rakyatnya.

Kalah perang sudah barang tentu Jepang harus mematuhi peraturan atau perjanjian yang pastinya merugikan. Tapi lihatlah Jepang yang sekarang. Negara ini berkembang sangat pesat sekali. Bahkan menjadi negara yang paling ditakuti dunia dalam hal perekonomian.

Apa saja sebenarnya membuat Jepang begitu cepat bangkit dan perkasa kembali? Berikut ini ada sepuluh hal yang saya dapat (repost) dari salah satu blog mengenai kekuatan Jepang.

1. KERJA KERAS
Orang Jepang menghabiskan 2450 jam/tahun untuk bekerja jauh dibandingkan negara2 maju lainnya seperti Amerika Serikat (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun).
Seorang pegawai Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari sedangkan negara-negara lain membutuhkan 47 hari untuk membuat mobil yang sama. Pulang cepat adalah hal paling memalukan di Jepang. Mereka yang pulang cepat dianggap tidak terpakai oleh perusahaan.

2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Lihatlah bagaimana para petinggi negara gagal dalam menjalankan tugas sudah barang pasti mereka akan dengan cepat mengundurkan diri.

3. HIDUP HEMAT
Ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan {core business) perusahaan.

5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundllng model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita. founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995. tercatat lebih dari 300 model walkman lahir danjumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran To-kugawa yang menutup semua akses ke luar-negeri. Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika Restorasi Meiji [meiji Lshin) dalang. Bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi, dan kayu; bahkan 85 persen sumber energi Jepang berasal dari negara laintermasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30 persen wilayah Jepang akan gelap-gulita. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945. dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Temyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinJcansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk cassete tape-nya yangmu-ngil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Vang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.

7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD. SMP. maupun SMA. Pelajaran Sejarah. Biologi. Bahasa, danseba-gianya disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepangju-ga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan sebagainya). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai zaman modern. Biasanya terjemahan buku Bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak bukuasingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu. mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "satu orang profesor Jepang akan kalah dengan satu orang profesor Amerika, hanya 10 orang profesor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang profesor Jepang yang berkelompok". Musyawarah-mufa-kat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi

9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Contohnya di SD Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan belajar maupun be-kalnya sendiri, dan bertanggungjawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang-tua. Mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orangtua dan nantimereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI DAN HORMAT ORANG TUA
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Menghormati orangtua adalah sebuah keharusan. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka Jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang.

Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah Pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

sumber: bataviase.co.id

0 Komentar

Posting Komentar

Selamat jadi komentator ya. Focus on topics. No Spam please.