Minggu, Juli 11, 2010

D-Day

Operasi yang berlangsung dalam periode Perang Dunia II dan bertujuan untuk merebut kekuasaan dari tangan Nazi ini dikenal dengan kode Operation Neptune dan Operation Overlord, dimulai pada tanggal 6 Juni 1944, pukul 06.30 pagi.

Penyerbuan dilakukan dalam dua tahap, diawali pendaratan 24.000 orang tentara Amerika, Inggris, Kanada dan Perancis sesaat setelah tengah malam, serta dilanjutkan dengan pendaratan kapal-kapal amfibi pada pagi harinya. Selain itu dikerahkan pula pasukan tambahan untuk mengelabui Jerman mengenai lokasi pendaratan sebenarnya (wikipedia).

Konvoi melintasi Selat Inggris (wikipedia.org)

Berbagai sumber menyebutkan operasi ini sebagai invasi kendaraan amfibi terbesar yang melibatkan lebih dari 160.000 personil dalam pendaratan di pagi hari 66 tahun yang lalu itu. Tak kurang dari 195.700 personil marinir dengan 5.000 kapal ikut terlibat.

Keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni posisi bulan serta kondisi pasang surut air laut. Cahaya bulan purnama akan berfungsi sebagai penerang alami saat operasi berlangsung, sedangkan kondisi pasang tertinggi air laut dibutuhkan agar saat pendaratan kapal-kapal dapat terhindar dari jebakan ranjau yang dipasang tentara Jerman di sepanjang bibir pantai.

Invasi Normandy, 6 Juni 1944 (wikipedia.org)

Awalnya Komandan Tertinggi Sekutu, Jenderal Dwight D. Eisenhower telah menetapkan 5 Juni sebagai tanggal operasi, namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan pendaratan terpaksa ditunda sehari kemudian.

Faktor cuaca yang tidak menentu ternyata juga mengecoh kubu Jerman yang berpikir bahwa Sekutu tak mungkin menyerang dalam kondisi cuaca seperti itu. Beberapa pejabat teras Jerman memutuskan untuk mengambil cuti akhir pekan, malah ada yang cuti beberapa hari untuk merayakan ulang tahun istrinya. Tak dinyana, Sekutu ternyata nekat mendarat.

Kamis subuh tanggal 5 Juni 1944 pukul 04.15 Jenderal Dwight Eisenhower, Panglima Komando Gabungan Sekutu di Eropa memecah ketegangan di ruang sidang perwira Sekutu, dengan keputusan singkat: “Well, we’ll go!”. Sidang perwira Sekutu tersebut akan memutuskan kapan Operasi Amfibi Akbar Overlord mulai dilaksanakan. Operasi Overlord akan menentukan masa depan Eropa yang sejak 1940 berada di bawah pendudukan Nazi Jerman. Keputusan Ike – demikian nama panggilan Jenderal Eisenhower- tersebut menghapus keraguan pihak Sekutu akan kepastian pelaksanaan Overlord, yang tengah dikacaukan oleh kondisi buruk cuaca di perairan Selat Channel. Dengan demikian, bagaimanapun buruknya cuaca, Operasi Overlord harus dilaksanakan.

Kamis malam pukul 21.35 ra-tusan pesawat angkut C-47 dan DC-3 yang memuat ribuan penerjun serta menarik ratusan glider berisi ratusan prajurit dari Divisi Lintas Udara Amerika dan Inggris segera melesat menuju dropping zone di sekitar daerah barat Perancis. Pendaratan udara tersebut mengawali Operasi Overlord sekaligus membuka jalan bagi operasi pendaratan dari laut di esok harinya. Segera setelah pendaratan dari udara, pasukan Wehrmacht yang sempat “terkejut” terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Lintas Udara Sekutu. Keterkejutan pihak Jerman tidak berhenti sampai disitu, karena pada esok harinya, tanggal 6 Juni 1944 pukul 03.09, satuan radar mereka mendeteksi gelombang besar pesawat pembom Sekutu yang melancarkan carpet bombing (pemboman permadani) di sekitar wilayah pesisir barat Perancis. Selanjutnya ketika fajar merekah yang diliputi kabut tebal, penjaga per-tahanan pantai Jerman terkejut melihat hamparan ribuan kapal berbagai jenis telah berada di depan pantai Normandy, Perancis Barat. Itulah 5 Divisi Gabungan Sekutu (2 Divisi Amerika, 2 Divisi Inggris, 1 Divisi Kanada) yang bersiap melancarkan pendaratan amfibi akbar di Normandy. Pendaratan di Normandy dilakukan di beberapa pantai yang harus direbut oleh kesatuan-kesatuan Sekutu secara terpisah dan masing-masing diberi kode sandi, seperti Omaha (daerah perebutan Korps 5 Amerika), Pointe du Hoc (Batalyon-2 Ranger, Amerika), Utah (Korps 7 Amerika), Gold (Korps 30 Inggris), Juno dan Sword (Korps 1 Inggris).

Sedetik kemudian dari mulut Sedetik kemudian dari mulut meriam kapal-kapal perang Sekutu memuntahkan ribuan proyektil peluru ke seluruh pesisir pantai Normandy, menyapu perimeter pertahanan pantai Jerman. Setelah preliminary bombing, ratusan kapal pendarat Sekutu meluncurkan ke pantai dan memuntahkan ribuan pasukan Sekutu yang langsung terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan Jerman. Kengerian pendaratan di pantai Normandy tergambar dalam film kolosal produksi Hollywood: Saving Private Ryan dan The Longest Day. Operasi pendaratan am-fibi di Normandy tersebut hingga menjadi sebuah kajian strategis yang menarik dan menjadi ilham bagi sebuah pelaksanaan operasi amfibi hingga kini, baik dalam pertempuran yang sesungguhnya maupun dalam latihan. Tanggal 6 Juni 1944 yang terkenal sebagai “D Day” telah membuka sebuah babakan baru dalam sejarah peperangan modern dan merupakan penentu masa depan Eropa.

Normandy : Kunci Kemenangan Sekutu Di Eropa
Hal paling menarik dalam berbagai kajian sejarah strategi militer seputar D Day, adalah ba-gaimana Sekutu menyimpan secara ketat rahasia pelaksanaan Operasi Overlord, baik di bidang penyiapan satuan-satuan opera-sionalnya maupun taktik kontra spionasenya. Selain itu, keberhasilan Sekutu dalam menghimpun dan mengorganisir berbagai elemen baharinya sungguh mengagumkan. Ribuan kapal sipil, seperti kapal tanker, angkut personil bahkan kapal penangkap ikan berhasil dimobilisasi dalam berbagai kegiatan militer. Hebatnya, semua itu tidak dilandasi faktor finansial, melainkan lebih kental sebuah “semangat membebaskan Eropa dari 100 Tahun Nazi Jerman”. Karya inovatif pihak Sekutu yang turut mendukung kesuksesan Operasi Overlord, adalah penemuan pelabuhan apung buatan yang dikenal sebagai Mulberry Harbour, modifikasi tank tempur M4 Sherman menjadi tank amfibi alias Sherman Duplex Drive dan pembuatan pipa penyalur bahan bakar bawah laut PLUTO (pipe line under the ocean). Semua itu masih ditambah dengan serangkaian modifikasi berbagai kendaraan lapis baja yang “disulap” menjadi tank penyapu ranjau, pembuat jembatan, pembuat jalan hingga tank khusus penghancur beton. Terlepas dari semua itu, prestasi terbesar Sekutu adalah kemampuannya menjaga rahasia tanggal dan tempat pendaratan, terutama dari unsur bangsa Inggris. Kehebatan bangsa Inggris menjaga kerahasiaan D Day tercermin dalam ungkapan Sejarawan Militer terkenal Liddel Hart, yaitu “Britain proved a barren island of spies” (P.K. Ojong, Perang Eropa jilid III, 2005: 29).
Sementara itu, Jerman yang menguasai hampir seluruh jazirah Eropa sesungguhnya telah memperkirakan akan adanya pendaratan Sekutu di pesisir barat Perancis. Untuk bisa menggagalkan invasi Sekutu ke Eropa, Jerman telah merencanakan beberapa strategi. Namun, pada kenyataannya semua strategi Jerman untuk mempertahankan wilayah pendudukannya tidak semulus perencanaannya. Tekanan Militer Soviet di Front Timur, kejatuhan Italia dan Yunani ke tangan Sekutu harus diakui telah mengurangi kemampuan ofensif Jerman. Banyak sumber daya tempur Jerman, seperti tank, panser, meriam, kapal perang dan prajurit profe-sional, yang hilang dari daftar inventarisasi militernya. Meskipun demikian, Panglima Komando Pertahanan Jerman di Perancis Marsekal Erwin Rommel tidak bersikap skeptis. Jenderal kampiun yang dijuluki Rubah Gurun Pasir dan mantan Komandan Deutsche Afrika Korps tersebut merancang sebuah sistem defensif di sepanjang pesisir pantai Perancis Barat, yang dikenal sebagai Atlantik wall (Tembok Atlantik). Pengerjaan Tembok Atlantik sepenuhnya dikerjakan oleh grup insinyur dan zeni AD Jerman, yaitu Organisasi Todt pimpinan Fritz Todt, dengan mengerahkan ribuan pekerja paksa dari berbagai kamp konsentrasi. Rencananya, Tembok Atlantik akan dibangun menjadi super-fortress diperkuat meriam-meriam raksasa dan difortifikasi beton tebal tahan bom. Alasan Rommel merancang Tem-bok Atlantik, yang pertama adalah jika pertahanan pantai Jerman “jebol” maka akan sulit menahan laju invasi Sekutu selanjutnya. Menurut perhitungannya, Jerman harus dapat menahan Sekutu di pantai tak lebih dari 24 jam, setelah itu maka seluruh perimeter akan hancur. Kedua, adalah pertimbangan realistis atas situasi militer di Front Barat, yaitu udara telah dikuasai oleh Sekutu. Dengan demikian, suatu konvoi di darat sangat rentan dimusnahkan pesawat-pesawat Sekutu sebelum tiba di tempat tujuan.

Namun, rencana Rommel tersebut terkendala oleh atasannya Marsekal Gerd von Rundstedt, Panglima Komando Eropa Barat. Rundstedt lebih menghendaki pertahanan mobil dan menghindari pertahanan defensif statis. Perseteruan politis ini berimbas berkurangnya dukungan bagi pembangunan Tembok Atlantik, penempatan pasukan yang tidak berkualitas dan divisi lapis-baja Jerman yang jauh dari Normandy. Di sisi lain, kendala Rommel adalah masalah komando pasukan. Rommel memang seorang Komandan Pertahanan Perancis, namun tidak semua pasukan Jerman mematuhinya. Sebagai contoh, Divisi Panzer Lehr dan SS (Schutzstaffel) Hitlerjugend Panzer hanya patuh pada perintah Sang Fuhrer Adolf Hitler ketimbang Rommel, komandannya. Parah-nya lagi, AU (Luftwaffe) Jerman lebih diprioritaskan untuk melindungi negeri induk dan AL (Kriegs-marine) tidak beroperasi di perairan Selat Channel. Akibatnya, Rommel diibaratkan “macan tanpa gigi”. Satu-satunya kekuatannya, hanyalah Divisi 352 yang terlatih baik serta veteran perang di Front Timur, yang ditempatkan di sepanjang Pantai Sainte-Honorine-des-Pertes hingga Vierville-sur-Mer. Pantai ini ketika D Day dikenal sebagai Pantai Omaha, pantai pendaratan Divisi Infanteri 1 dan 29 Amerika, merupakan tempat paling banyak memakan korban di pihak Sekutu sehingga dijuluki “The Bloody Beach”. Sementara Divisi Panzer 21 – berada lang-sung di bawah komando Rommel - justru ditempatkan di Kota Caen, beberapa kilometer jauhnya dari pantai pendaratan Sekutu. Singkatnya, Tembok Atlantik tidak memiliki perlindungan udara (air cover), dukungan darat dan tanpa perlindungan dari unsur-unsur AL, seperti kapal perang permukaan dan kapal selam. Ironisnya, Hitler dan tim propaganda Nazinya justru secara “takabur” membesar-besarkan kehebatan Tembok Atlantik sebagai “benteng Eropa barat yang tak mungkin ditembus”.

Di Bawah Bayang-Bayang Kegagalan
Sejarah membuktikan, bahwa pendaratan Sekutu di Normandy saat D Day 6 Juni 1944 telah membuka jalan bagi “Pembebasan Eropa”. Sejak itu, Sekutu seolah tidak tertahankan lagi. Setiap perimeter pertahanan Jerman dihancurkan secara signifikan. Namun, sebelum itu? Apakah memang Sekutu benar-benar memiliki alat perang yang berkemampuan superior atau Wehrmacht (AB Jerman) telah memudar kejayaannya?
Jika menyimak di awal tulisan, tampak hari-hari menjelang pelak-sanaan D Day sesungguhnya Sekutu pun tengah dilanda kebimbangan, apakah akan tetap menggelar Operasi Overlord sesuai jadwal yaitu tanggal 5-6 Juni, atau menundanya hingga tanggal 8, atau menunda tanpa batas waktu. Hal tersebut didasari oleh gangguan cuaca yang parah di sekitar Selat Channel, seperti badai, ombak besar dan kabut tebal. Kecemasan lain yang menghinggapi benak para pimpinan Sekutu, bahwa rahasia pelaksanaan Operasi Overlord dan tempat pendaratan akan bocor ke telinga pihak intelijen Jerman. Jumlah personil Sekutu yang kian membengkak di beberapa pelabuhan pemberangkatan menjadi pertimbangan, bahwa kemungkinan terjadi kebocoran intelijen sangat besar. Selain itu, penum-pukan kapal berbagai jenis dalam jumlah besar sangat rawan “te-rendus” pesawat pengintai atau kapal selam Jerman. Kekha-watiran lain, adalah laporan dari pihak resistensi (gerilyawan) Pe-rancis Merdeka yang menye-butkan kemungkinan Jerman telah menempatkan sejumlah meriam raksasa dan tank-tank berat di Normandy.
Meskipun mendapat sejumlah kekhawatiran yang sempat mem-buat pesimis, namun Sekutu mendapat kabar baik dari pihak resistensi, bahwa Tembok Atlantik “hanya” dipertahankan oleh pasukan Jerman berkualitas rendah, prajurit yang rata-rata sudah tua dan anak-anak, tidak berpengalaman tempur, tidak terlatih dan bersenjata ringan. Sebuah la-poran yang membangkitkan semangat namun menyesatkan. Akibat data yang keliru ini, langsung dirasakan oleh pasukan Sekutu yang mendarat di Pantai Omaha. Mereka justru berhadapan dengan pasukan Jerman yang terlatih baik, berpengalaman di Rusia dan fanatik, yang lebih memilih mati daripada menyerah.
Sementara itu mengapa pihak Jerman “kecolongan” di Front Nor-mandy? Kesalahan utama pihak Jerman, ternyata terletak pada elemen intelijen mereka. Hitler adalah sosok pemimpin yang sangat otoriter, sehingga tidak dapat menerima informasi atau berita yang tidak menyenangkan hatinya. Oleh sebab itu, banyak laporan intelijen - terutama ten-tang kemampuan Sekutu meng-gelar Operasi Overlord - yang dibuat “asal bapak senang”, tidak berdasarkan fakta. Akibatnya, pimpinan tertinggi Jerman – OKW (Oberkommando Wehrmacht) dan Hitler - memiliki persepsi yang keliru terhadap kemampuan Sekutu. Kesulitan terbesar lainnya, adalah ketiadaan komando yang padu dan terpusat. Ketidak-kompakan antara Rommel dengan Rundstedt telah mengakibatkan proyek pembangunan Tembok Atlantik tidak jelas. Hak tersebut tampak pada ketebalan beton yang berbeda-beda, meriam pantai hanya ditempatkan di Sektor Pas de Calais, yang jauh dari Normandy (dan bukan target Sekutu), divisi panser yang berbasis jauh dari Normandy, penyaluran hingga penempatan prajurit yang tidak berkualitas di sebagian besar sektor. Namun yang terparah, adalah adanya sebagian pasukan yang ditempatkan di bawah organisasi Rommel, namun hanya patuh pada Hitler. Pasukan ini ketika D Day tidak bersedia membantu Tembok Atlantik, hanya karena menunggu perintah Hitler yang masih terlelap tidur.
Kondisi cuaca yang sangat buruk memang kian meyakinkan pihak Jerman, bahwa Sekutu tidak mungkin mendarat di Normandy pada tanggal 6 Juni. Perasaan yang sesungguhnya juga sama-sama menghinggapi sebagian besar perwira Sekutu. Oleh sebab itulah, maka saat D Day Rommel pun tengah merayakan ulang tahun isterinya di Kota Ulm, Jerman. Fakta sejarah yang menghilangkan keraguan pihak Sekutu, adalah keberhasilan seorang ahli meteorologi Inggris Dr. Stagg meyakinkan Ike, bahwa antara tanggal 5 hingga 6 Juni, tak lebih dari 24 jam, cuaca akan sedikit membaik. Itulah yang meyakinkan Ike, untuk mengeluarkan perintah penyerangan pada tanggal 5 Juni. Sejarah memang membuktikan bahwa pendapat tersebut benar, cuaca secara tiba-tiba membaik pada tanggal 6 Juni dini hari.

Tembok Atlantik, Kegagalan Strategi Defensif
Jika Sekutu selama menjelang dan saat pelaksanaan D Day terjalin sebuah keterpaduan operasi serta mobilisasi berbagai elemen maritim, baik sipil maupun militer, maka Jerman justru sebaliknya. Komando yang tidak padu dan kompak, serta persaingan level atas yang berimbas ke lapangan, hingga ketidakperca-yaan Hitler terhadap sebagian perwiranya. Dan semua itu, diperparah dengan banyaknya laporan intelijen yang dibuat dengan format “asal bapak senang” dan menyesatkan, tidak bersumber pada fakta. Sejarah membuktikan, apa yang dikhawatirkan Rommel beralasan. Supremasi udara dan laut oleh Sekutu berhasil meron-tokkan mesin perang Jerman hanya dalam tempo 24 jam. Konvoi bala bantuan baja Jerman dibabat habis-habisan oleh pesawat Sekutu, demikan pula depo logistik serta amunisi Jerman.
Strategi defensif yang di-bangun Jerman di Normandy, terbukti gagal dan penyebabnya bukan karena superioritas mesin perang Sekutu, melainkan karena intrik di tubuh AB Jerman sendiri. Wehrmacht bagaikan gumpalan bola yang tampak luarnya rapat dan kuat, namun di dalamnya berongga-rongga serta tidak solid. Tembok Atlantik harus menahan gempuran Sekutu sendirian, iring-iringan bala bantuan berjalan tanpa perlindungan dan dukungan logistik yang memadai, serta kepatuhan berlebihan terhadap satu individu sehingga melupakan kepentingan negaranya. Itulah penyebab kegagalan strategi defensif Jerman di Eropa.

0 Komentar

Posting Komentar

Selamat jadi komentator ya. Focus on topics. No Spam please.